Saturday, May 24, 2008

Small Farmer & Supermarkets' chain

Recently the rapid growth of supermarkets as a new food supply chain in developing countries is a topic that has generated considerable debate among academics because of the impact they have on food policy and the agricultural sector.
Timmer (2004) shows how three “drivers” “globalization, urbanization and technology” have contributed to the growth of supermarkets developing countries. In addition, Chowdhury et al. (2005) assert that, as wealth has increased and more people live in urban areas and there are more women in the workforce, lifestyles have changed in Indonesia. So people demand more convenience. Other economic conditions such as increased amounts of money, due to Foreign Direct Investment (FDI) have also contributed to the demand for more convenient access to shops.
Timmer (2004) also explains how food consumption patterns are now more diversified related to improving of health knowledge and nutrition education in the household level. Chowdhury et al. (2005) show many choices of available food such as “cereals, high value food (fish, meat, milk and fresh fruits and vegetables (FFVs), and prepared food and beverages”.
According to meet consumers’ preferences supermarkets have a high quality and safety standards for their product. Not surprisingly then the growth in number of supermarkets in developing countries denies many smaller farmers to the access food supply chain. For example, in Latin America, small farmers rapidly lose access to supermarket supply chain because they are unable to meet the high food standards demanded by supermarkets (Timmer, 2004). In addition, Chowdhury et al., (2005) mention that small farmer probable exclude from the supermarkets supply chain because of economics reason such as the high fixed transaction costs and the implement grades and standards. Furthermore, there are also entry barriers for small farmers such as investment in physical capital (Chowdhury et al., 2005) and lack of information and technology (Timmer, 2004). For example, in Indonesia, small farmers have “difficulties in ensuring credit and attaining technical know-how on new products” (Chowdhury et al., 2005).
In contrast, Minten et al., (2005) claim that small farmers in developing countries could be successfully included in supermarkets supply chain. They show that small farmers in Madagascar were able to participate in the contracts with the company exporting vegetables to supermarkets. In this contract, small farmers were able to benefit from improved to inputs such as seeds, fertilizers and pesticides, credit, extension services, technology adoption and enhanced income stability. This result surprisingly to give evidence of the impact of supermarkets on small farmers is positive.
Similarly, Chowdhury et al. (2005) focus on the integration of small scale farmers in the food supply chain and the specific products such as fruits and vegetables (FFVs). They describe that the emergence of supermarkets providing vertical relationships between supermarkets and farmers. However, they illustrate how to reduce the information gap between the needs of supermarkets and those of farmers, vendors are needed. Chowdhury et al’s research highlighted that linked to the supermarkets supply chain a reduction in price and production risks can benefit farmers. However, they also claim that the difficulties of small farmers in supplying to supermarkets may increase further.
As these studies show it is still not clear whether supermarkets have a positive or negative impact upon small farmers. So, the growth of supermarkets with their heightened concern regarding food quality, consistent volumes, and food safety represent a threat and an opportunity for small farmers. Timmer (2004) suggests that in the long run, the food policy could give point of view how to assist small farmers to compete in the food supply chain. Furthermore, he suggests that of greater concern is the rising concentration in global food supply chain. Similarly, Chowdhury et al. (2005) suggest the government of developing countries need to build policies to increase small farmers’ participation in the supermarkets supply chain.
Then, any subsequent research is needed to measure the impact of supermarkets not only on small farmers but also wholesalers and other intermediaries.

Jewel in the Palace

Membaca judulnya, mengingatkan akan sosok Jang-geum, tokoh utama dalam serial drama Korea yang pernah diputar salah satu stasiun TV swasta di Indonesia beberapa tahun lalu. Drama ini menjadi populer seperti drama Korea lainnya karena mempunyai alur cerita yang kuat. Selain itu, latar dan amanah yang ditampilkan dalam ceritanya membuat drama Korea yang satu ini patut diacungi jempol.
Menurut saya, Jewel in the Palace termasuk salah satu kisah historis dari negeri Gingseng karena diambil dari kisah nyata. Dari mengikuti serial drama ini banyak hal yang diperoleh selain sekedar entertainment. Rentetan cerita yang disampaikan sangat bermakna terutama oleh bangsa Indonesia yang sekarang ini dalam upaya terus membangun masyarakatnya. Mengapa bisa begitu? Secara singkat, saya menyebut ada unsur entrepreneurship tercermin dari tokoh utama drama ini, Jang-geum.
Pertama, bermula dari Jang-geum kecil sudah mempunya arah dan tujuan hidup yang jelas. Kemudian dia berusaha merencanakan dan berpetualang meraihnya dengan memasuki istana, tempat tujuannya berada. Kedua, Jang-geum terus konsisten dengan mengembangkan karakter pribadi yang tangguh seperti semangat, rasa ingin tahu, baik hati sehingga mampu mengantarkannya menjadi the Highest Kitchen Lady, salah satu tujuan yang ingin diraihnya. Dari sini terlihat bahwa, sosok Jang-geum patut dicontoh dalam meraih sebuah impian. Mempunyai impian tersebut untuk kemudian membuat road-map untuk menujunya.
Beberapa karakter Jang-geum tersebut, dalam istilah sekarang termasuk soft skill. Yakni salah satu kemampuan yang layak kita miliki untuk bangkit menata bangsa ini. Mengapa? karena dengan soft skill tersebut mampu membuat kita bertahan. Tidak mudah menyerah kala ada problem melanda, melainkan bagaimana mencari solusi yang tepat. Dicontohkan juga bahwa Jang-geum mampu mengatasi masalah-masalah yang tidak sedikit dalam perjalanan meraih impiannya. Namun dari situlah kreativitas Jang-geum terbangun.
Selain itu, dengan kesabaran dan dedikasi yang tinggi meraih tujuan mampu membuktikan kesuksesan Jang-geum. Dengan soft skill yang dipunyai, menjadikan Jang-geum mampu membaca situasi dengan baik. Dan akhirnya menjadi kunci suksesnya. Dicontohkan lagi, seolah "tamat" menjadi the kitchen lady, namun dengan semangat iqro'-nya dan semangat belajar yang tinggi mengantarkannya menjadi the best medical personnel in the palace. Sampai akhirnya dapat menunjukkan operasi caesar pertama pada wanita yang hamil. Sebuah kesuksesan yang luar biasa.
Selain soft skill, ada kemampuan lain yang juga tidak boleh dikesampingkan yakni hard skill. Jang-geum pun mempunyainya yakni dengan adanya bakat dan kecerdasan yang dipunyainya sehingga mampu mengakselerasi dalam meraih impiannya. Disini terlihat bahwa kombinasi soft skill dan hard skill menjadi kunci kesuksesan Jang-geum.
Meskipun demikian, menurut beberapa sumber, bahwa proporsi kesuksesan tetaplah merupakan dominasi dari soft skill, yakni hampir 80%. Jadi, kala bangsa kita sudah terbukti pintar-pintar, tentu yang ditunggu-tunggu adalah kemampaun soft skillnya.
Sebuah kisah drama yang menarik, asalkan kita tak sekedar menontonnya. Tontonan yang sangat menarik ditengah semaraknya tontonan yang seharusnya tak layak konsumsi yang disodorkan oleh banyak stasiun televisi kita. Yang pasti semangat entrepreneurship yang tinggi sangat dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini.
Adelaide

Jurusan Favorit

"Prehatin, daftar PMDK di IPB yah, banyak kok alumninya yang kerja di bank" kata Wakasek Kurikulum SMU-ku dulu kala meminta saya untuk mendaftar PMDK di IPB. Entah mengapa Ibu itu, yang juga mengajar Matematika, memberikan embel-embel tawaran "kerja di bank". Padahal saya tidak pernah berkeinginan untuk kerja di bank bahkan bercerita ke beliau untuk bercita-cita menjadi banker. Atau sepertinya kerja di bank menjadi idola sehingga Ibu itu promosi tentang perbankan.

Tentu sangat beralasan mengingat minat untuk masuk ke IPB masih sedikit di SMU-ku. Dan secara umum juga untuk siswa di Kudus. Orientasi umumnya adalah melanjutkan studi di Jogja [UGM, UNY, UII, UMY dsb], Solo [UNS, UMS dsb], Semarang [Undip, Unnes dsb]. Ataupun kalo menyeberang propinsi relatif suka untuk mengarah ke timur, Surabaya, Malang. So, agak jarang untuk mengarah ke barat, kecuali Bandung dan Jakarta. Dan sedikit terkesan "aneh" melirik Bogor kala itu. "Kowe ga salah Pre mo daftar IPB, Pertanian lho?" ujar beberapa temenku.

Singkat cerita akhirnya kuputuskan untuk mendaftar juga ke IPB. Entah faktor apa yang membuatku mantap untuk mendaftar. Namun yang pasti bukan karena prospek, minat ataupun alasan-alasan lain seperti yang sering siswa-siswa lain kala mau melanjutkan kuliah. Saya hanya berpikir ini ada kesempatan mendaftar tanpa tes, karena hanya mengirimkan berkas raport sejak kelas satu SMU. Kala itu ada tiga orang lagi dari SMU ku yang mendaftar.

Jelang akhir pengiriman berkas, saya baru mulai bingung. "Jurusan apa ya?". Ya jelas bingung, lha wong mendaftar tanpa gambaran yang begitu jelas. Kala itu saya hanya berpikir pilih jurusan yang berbau "teknologi" saja. Sepertinya jurusan yang bagus dan oke, pikirku waktu itu. Dan akhirnya kutuliskan pilihan satu [teknologi industri pertanian], dua [teknologi pangan dan gizi] dan ketiga [hortikultura] Pilihan yang terakhir karena saya sedikit tertarik untuk belajar tentang buah-buahan, sayur dan bunga-bungaan. Mantap deh. Persyaratan pun komplit.

Namun jelang sore dan sehabis maghrib muncul keraguan tentang pendaftaran PMDK IPB. Kubaca semua persyaratan tidak ada yang kurang. semua formulir sudha kuiisi semua. Namun kala kulihat point pilihan jurusan, saya berhenti sejenak. Saya teringat kalau kuliah ya harus yang kita sukai seperti informasi yang kuperoleh selama ini. karena dengan suka kita akan menkmatinya. dan insyaAllah akan berhasil dalam kuliah di jurusan itu.

Mau konsultasi sana sini, pada tidak tahu karena dunia IPB masih awam di lingkungan kami. Secara juga ada kata pertanian dimana banyak yang mencibir mendengar kata pertanian itu. Berpikir secara sederhana saja, sudah mengurus sana sini kok saya mundur saya ahirnya menunggu bangun tidur untuk memohon petunjukNya. Finally, saya ambil formulir epndaftranku dan kuliahat point pilihan, seketika itu juga aku melihat brosur pendaftaran IPB tahun lalu. Disana tertuang, Sosek Pertanian/Agribisnis dengan jumlah pendaftar diatas 2400an, jauh melebihi pendaftar di jurusan lain yang rata2 dibawah angka seribu, hanya jurusan teknologi industri pertanian dan teknologi pangan&gizi yang berada di urutan kedua dan ketiga, sekitar 1200an.

So, ini kayaknya jurusan favorit deh? pikirku. Seketika itu juga saya menghapus pilihan yang sudha ada dan menuliskan (1) Sosek Pertanian/Agribisnis, (2) TIN dan (3) TPG. Finally, aku diterima bersama dua temen SMU-ku. Namun tak sedikit yang berujar, jurusan apa tuh Agribisnis? Hehe waktu itu saya hanya tersenyum. Padahal sebenarnya saya juga belum begitu tahu. Dan itulah yang akhirnya membautku jadi ragu dan sedikit menyesal. Mengapa ya saya memilih Agribisnis, apdahal dua temen SMU-ku yang notabene nilai mereka ada di bawahku saja diterima di jurusan yang ada berbau "teknologi".

Meskipun demikian, kala tiba di Bogor kebanggaan seketika muncul. Ternyata Agribisnis termasuk jurusan favorit di IPB. Bahkan paling favorit kala itu. Sekarang masih juga termasuk favorit. Ya syukur deh.

....pesan: meskipun demikian, pada dasarnya semua jurusan adalah baik, tergantung diri kita lah kala kita kuliah. apakah kita mampu mengembangkan diri dengan baik atau tidak itu adalah yang terpenting...